Sekedar Menyapa



Pagi Buta saja , menyela waktu untuk menyangga dagu
sesekali kilatan permata lewat tirai terbuka menguasai mata
bahkan kerang berayun tak sekedaa pengusik serakah
lelah layu bunga ditaman belantara. 

dua kali deringan lonceng perak bertali kuning
lagi berbunyi begitu meriah bersama sautan suaramu
baiklah aku tak perlu membendung rindu lagi
sayap semakin patah jika air mataku ku sembunyikan disana

besok lagi saja, aku mau menuai kekesalan atas penyesalanku
baik hatimu memburu kebenaran yang tak sesuai dengan kenyataan
itulah harapan yang kau buat, 
sebenarnya andai bukan lah sesuatu pemenuhan bagimu

taruhlah semua yang kau namakan rasa kasihan. 
dan jangan biarkan itu tumbuh kembali
karna itulah alasanmu untuk meloncengkan pintuku
sekedar menyapa? apa seseorang paling teraniaya berkat sapaan?

kau tanya begitu. dan ku jawab benar !
jadi menyapa bukan sebuah jawaban atas peduli
lenggang saja keluar bumi lainkali
jangan menyapa coba ku kelabuhi kau
sebenarnya kamulah yang merindukanku

biar pantai itu segersang-gersangnya harapan
sepedih-pedihnya jalan menyapa malam
segelisah hati menuju pagi

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

TENTANG PENULIS

TENTANG PENULIS
Retno Miranti

Pengikut