PROFIL
NEGARA YAMAN
Luas Wilayah : 528.076 km²
Jumlah penduduk : 25.956.000 jiwa
Pendapatan perkapita : $3.788
Ibukota :
Sana’a
Bahasa resmi
: Arab
Mata uang :
Riyal Arab
System pemerintahan : Republik Presidensial
CIRI
CIRI NEGARA YAMAN SEBAGAI NEGARA BERKEMBANG
Yaman merupakan negara berkembang
yang termasuk dalam Arab Spring , namun yaman merupakan
negara termiskin dibanding negara arab lainya.Inflasi yang terjadi di tahun
2010 mencapai 11% dan terus meningkat antara 15-18% hal tersebut bukan anpa alasan karena
pendapatan negara yang dominan pada sektor pertanian tidal menjamin kehidupan
negara.
Yaman
merupakan negara yang stategis dalam
jalur perdagangan dunia dan sering di juluki sebagai negara arab yang bahagia
namun banyak konflik yang mengakibatkan jatuhnya Yaman seperti pemberontakan
suku Houti yang menyerang yaman utara dan Al-Qaeda yang menyerang Yaman
selatan. Hal tersebut membuat yaman semakin memburuk karena diterpa banyak
konflik. Jumlah peengangguran di negara
Yaman di perkirakan mencapai 49%,
nota kesepahaman kerja sama dalam bidang pendidikan antara indonesia yaman telah
ditandatangani pada tanggal 25 juni 2002, pada saat Menteri Pendidikan Tinggi dan
Riset Yaman berkunjung ke Indonesia dalam rangka memenuhi undangan Menteri
Pendidikan RI.
MASALAH
YANG DIHADAPI NEGARA YAMAN
A. EKONOMI
Kebijakan ekonomi Yaman didasarkan pada
mekanisme pemasaran dan kebebasan ekonomi yang mendukung inisiatif investasi.
•
Yaman di klasifikasikan sebagai negara
dengan pertumbuhan kurang maju walaupun mempunyai sumbr daya alam yang
sebenarnya bisa di manfaatkan seperti minyak, gas , perikanan dan sektor
pertambangan.General Investment Authority merupakan lembaga negara bertanggung
jawab untuk mengkoordinasikan sektor swasta di Yaman.Mitra utama dagang negara
Yaman adalah Thailand, Korea Selatan , China , Singapura , Jepang dan Arab saudi.
•
Pertanian dan perikanan menyumbang 15-20
% PDB dengan regional tanam dan budidaya sebanyak 67,9 %.Pertambangan dan
penggalian industri menyumbang 30-40 % dari PDB,Sedangkan ekspor mencapai 33,4
% PDB , ekspor paling penting adalah barang mentah sebanyak 94-97% ,lembaga
dan Perjanjian Perdagangan Bebas (PBB) di Yaman: (IORA),Liga Arab,(OKI),(AMED),Bank Pembangunan Islam,
(ASPA),(ESCWA),
(GSP)
B. SOSIAL
Kebanyakan orang Yaman adalah orang Arab. Bahasa mereka adalah bahasa
Arab dan hampir semua penduduknya adalah pengikut agama Islam. Sebagian besar
orang Yaman di pegunungan utara mengikuti aliran Zaidi (atau Zaydi), cabang
Syi’ah. Mereka yang tinggal di dataran rendah utara dan selatan mengikuti
aliran Sunni.
Orang Yahudi telah tinggal di Yaman selama sekitar 2.000 tahun, dan
jumlah mereka pernah mencapai 50.000 jiwa. Sejak tahun 1948, sebagian besar dari
mereka telah meninggalkan Yaman menuju Israel dan tempat lainnya. Kini hanya
ada beberapa ratus orang Yahudi yang tersisa di negara itu.
Secara historis, sebagian besar orang-orang di Semenanjung Arab
adalah nomaden atau semi-nomaden. Mereka mengikuti jalur yang usiaya sudah
berabad-abad untuk mencari air dan padang rumput untuk unta dan kambing mereka.
Namun orang Yaman mempertahankan cara hidup yang lebih menetap. Mereka
mendapatkan mata pencaharian dari perdagangan, pertanian, dan peternakan.

C. POLITIK
Konflik bersenjata di Yaman yang semakin besar
adalah hasil dari gejolak sebelumnya yang terjadi selama bertahun-tahun.
Konflik ini jika dicari awal mulanya adalah dampak dari gelombang Arab Spring yang terjadi pada akhir 2010 sampai 26 Maret 2015,
Arab Saudi menyanggupi permintaan Presiden Hadi dan memulai serangan udara ke
Yaman.PBB telah mencoba membawa pihak pihak untuk kembali berunding, namun masih belum ada nada positif mengenai hal ini.
Kelompok
HAM dunia protes terhadap rencana PBB menyerahkan mandat kepada Arab Saudi
untuk menyelidiki sendiri kejahatan perang di Yaman. Alasannya, Saudi dan
koalisi Teluk yang dipimpinnya layak untuk diselidiki karena melakukan agresi
militer di Yaman.Semula, Belanda mengajukan resolusi agar penyelidikan
kejahatan perang di Yaman dilakukan secara independen oleh PBB. Tapi, resolusi
itu ditolak negara-negara Barat yang membela Saudi dan koalisinya.
Negara-negara penolak resolusi dari Belanda itu antara lain, Amerika Serikat, Perancis
dan Inggris.Lantaran kalah dukungan suara, Belanda menyerah. PBB yang suaranya
didominasi negara-negara Barat itu, akhirnya ingin menyerahkan mandat
penyelidikan kejahatan perang di Yaman kepada Saudi dan koalisinya.
Human Right Watch (HRW) salah satu kelompok HAM terkemuka dunia, seperti
dikutip
Reuters, Sabtu
(3/10/2015) memprotes penyerahan mandat itu.”Hasil (suara PBB) adalah
kesempatan yang hilang bagi Dewan (HAM PBB) dan kemenangan besar bagi Arab
Saudi, melindunginya dari pengawasan atas undang-undang pelanggaran perang yang
mungkin akan terus berkomitmen di Yaman,” kesal Philippe Dam, Wakil Direktur
HRW di Jenewa.
Menurut HRW, semua pihak yang beperang di Yaman, layak diselidiki atas dugaan
melakukan kejahatan perang. Termasuk, Saudi dan koalisinya, pasukan Yaman serta
pasukan pemberontak Houthi.Saudi dan koalisinya selama enam bulan terakhir
membombardir wilayah Yaman dengan dalih memerangi pemberontak sesuai permintaan
Presiden Yaman, Abed Rabbo Mansour Hadi yang nyaris digulingkan kelompok
Houthi.Selama konflik di Yaman, lebih dari 5.000 orang tewas, termasuk 500
anak-anak. Selain itu, 21 juta orang mmenderita dan membutuhkan bantuan
kemanusiaan.

KEBIJAKAN
PEMERINTAH UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH DI YAMAN
o
Saat
ini ekonomi Yaman didasarkan pada mekanisme pasar dan kebebasan ekonomi, dengan
dukungan penting untuk investasi asing.Yaman diklasifikasikan sebagai salah
satu negara dengan pertumbuhan kurang, meskipun dianggap sebagai negara dengan
banyak sumber daya belum dimanfaatkan, khususnya minyak, gas, perikanan dan
sektor pertambangan.Yaman adalah ekonomi termiskin di semua negara Arab
o
General
Investment Authority, lembaga negara bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan
sektor swasta di Yaman.
o
Kebijakan
Yaman tidak terlalu kuat karena banyak Negara yang ikut andil dalam konflik ini
justru banyak yang menilai bahwa Yaman dijadikan sebagai tempat perang dari
beberapa kekuatan dari Negara lain, hal tersebut sangat mudah terjadi karena
Yaman merupakan Negara miskin yang mendapat bantuan dari Negara lain.
ORGANISASI
YANG MEMBANTU YAMAN MENYELESAIKAN MASALAH
Keterlibatan
negara-negara Arab dalam penyelesaian konflik di Yaman sangat diperlukan,
apalagi setelah Amerika Serikat mengumumkan penarikan pasukannya dari Yaman.
Amerika Serikat –AS telah mengevakuasi semua personelnya dari Yaman, sehari
setelah bom bunuh diri yang menewaskan paling tidak 137 orang di dua masjid di
ibukota negara itu.
Departemen Luar Negeri AS merilis pernyataan
tersebut Sabtu (21/3/2015) malam waktu setempat. Sekitar 100 tentara khusus
Amerika sempat ditempatkan di pangkalan udara al-Anad, yang juga menjadi tempat
peluncuran serangan-serangan pesawat tanpa awak terhadap militan Al Qaeda di
Yaman. Namun demikian, Amerika akan terus memantau secara aktif ancaman teror
dari wilayah Yaman dan menyiagakan diri untuk mengatasi ancaman tersebut.
Di
tengah memburuknya situasi keamanan, Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi,
pada Sabtu lalu berpidato untuk pertama kalinya lewat televisi sejak melarikan
diri dari tahanan rumah di ibukota bulan lalu. Saat berbicara dari kota Aden,
Hadi menuntut pemberontak Houthi Syiah agar meninggalkan semua gedung
pemerintah yang mereka duduki, menarik mundur pasukan dari ibukota dan kembali
ke perundingan yang ditengahi PBB. Melihat situasi yang semakin memburuk di
Yaman, Menteri luar negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal, Senin (23/3/2015),
angkat bicara. Menurut Faisal, negara-negara Arab akan mengambil
“langkah-langkah yang perlu” dalam menghadapi pemberontak Houthi di Yaman jika
tidak tercapai kesepakatan damai. Artinya negara-negara Arab akan berusaha
“melindungi kawasan itu dari agresi” dan mengutuk apa yang disebut “campur
tangan” Iran di Yaman.
Apa
yang membuat negara-negara Arab akan membantu Yaman dalam menghadapi
pemberontak Syiah Houthi? Alasan pertama adalah adanya permintaan langsung dari
Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi agar negara-negara Arab melakukan
intervensi militer terhadap pemberontak syiah Houthi. Memang Presiden Mansour
Hadi tidak menyebutkan secara jelas intervensi militer yang dimaksudkan, hanya
menegaskan pemberontak Houthi harus dihentikan. Alasan kedua adalah keamanan
negara-negara Arab, khususnya tetangga terdekat Yaman, seperti Arab Saudi.
Tidak tertutup kemungkinan setelah menguasai Yaman, pemberontak Syiah Houthi
yang mendapat dukungan dari Iran akan menyerang negara-negara lainnya di
kawasan itu, terutama yang menganut paham yang berseberangan dengan paham
mereka. Untuk mencegah pengaruh “perang saudara” di
Yaman menyebar ke negara tetangganya, maka campur tangan negara-negara Arab,
khususnya Arab Saudi sangat diperlukan. Tapi perlu diingat bahwa tidak semua
permasalahan harus diselesaikan dengan kekuatan militer. Perang saudara di
Yaman meletus karena adanya dua paham yang berbeda, yang mana satu kelompok
merasa ditekan oleh kelompok yang lainnya. Seharusnya masalah seperti ini dapat
diselesaikan dengan pembicaraan damai.

REFERENSI
Ensiklopedia.PELAJAR DAN UMUM-2010