
Oleh :
Nama
: Retno Miranti
NPM
: 14430006
Progdi
: Ilmu Hubungan
Internasional
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
SLAMET RIYADI
SURAKARTA
2015
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum
wr.wb.
Puji syukur kamipanjatkan kepada
Tuhan Yang Maha Esa atas Berkat, Rahmat dan Karunia Nya kami bisa menyusun
makalah dengan judul “TARI REOG WARISAN BUDAYA INDONESIA” , semoga maklah ini
bisa membantu masyarakat awam maupun secara umum keseluruhan masyarakat Indonesia
untuk memahami kebudayaan asli Indonesia yang dalam hal ini membahas Tari Reog
yang merupakan kebudyaan luhur yang harus kita lestarikan.
Dalam penulisan makalah ini masih
banyak yang perlu di perbaiki dan kami mohon bimbingan dari Dosen Pembimbing
untuk terus membantu kami membuat makalah dengan baik lagi kedepanya.
Kami mohon kritik dan saran
membangun agar penyusunan selanjutnya lebih baik.
Penulis,
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI …................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1. Latar
Belakang ............................................................................ 1
1.2. Rumusan
Masalah ....................................................................... 2
1.3. Tujuan
......................................................................................... 2
1.4. Manfaat
....................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
............................................................................... 3
1.1. Pengertian
Reog .......................................................................... 3
1.2. Tari
Reog harus dilestarikan ....................................................... 5
1.3. Pementasan
Tari Reog ................................................................ 6
1.4. Pementasan
Reog Ponorogo ..................................................... 11
BAB
III KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 15
1.1. Kesimpulan............................................................................. .. 15
1.2. Saran.......................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA ..................................................................................... .. 16
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di
era globalisasi ini semakin banyak masyarakat yang menganggap kesenian khas
daerah yang dalam hal ini adalah Reog Ponorogo hanya sebuah kesenian masa
lalu.Yang di anggap kesenian memanggil setan dengan aura mistis.
Dan
dalam kenyataannya semakin banyak masyarakat yang melupakan warisan kebudayaan
daerah, dalam hal ini adalah Reog Ponorogo karena semakin majunya hiburan .
Reog
Ponorogo merupakan kesenian khas daerah Ponorogo yang pada akhirnya akan luntur
apabila tidak ada peran pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dalam
melestarikan kesenian tersebut dan bahkan warga negara lain yang notabene bukan
merupakan kesenian khas daerah meraka malah mau melestarikan peninggalan budaya
masa lalu itu.
Dan
dampaknya muncul kontroversi kalau negara tetangga mulai mengakui kesenian khas
daerah kita lalu bagaimana kita sebagai pemilik asli dari kesenian khas daerah
tersebut apakah kita hanya berdiam diri dan membiarkannya terjadi begitu
saja?padahal sebenarnya dizaman sekarang bukan suatu upacara pemanggilan setan
melainkan suatu sendra tari yang sangat menarik untuk dipahami dan dipelajari.
Namun apakah masyarakat zaman sekarang mengetahui apa itu kesenian Reog
Ponorogo?
Oleh
karena itu makalah kesenian ini saya buat agar para pembaca dapat mengetahui
apa itu Reog Ponorogo dan menghimbau agar semua elemen masyarakat khususnya
para pemuda di Indonesia mau melestarikan kesenian khas daerah mereka masing
masing dan mungkin kalau bisa membawa kesenian tersebut ke kancah
internasional.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah yang di maksud
Tari Reog ?
2.
Mengapa Reog merupakan
budaya yang harus kita lestarikan?
3.
Bagaimana pementasan
Tari Reog ?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Menjelaskan apa yang
dimaksud Tari Reog.
2.
Menjelaskan tujuan
melestarikan Tari Reog.
3.
Menjelaskan Pementasan
Tari Reog.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Memberikan informasi
tenntang Tari Reog.
2.
Memberikan ilmu tentang
cara melestarikan Reog.
3.
Memberikan informasi
cara Pementasan Reog.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Reog.
Reog
adalah sebuah kesenian budaya berbentuk teater yang dilakukan oleh sekelompok
pemain drama tari dengan berbagai karakter dan perwatakan pelaku dengan
menggunakan topeng yang besar, kesenian Reog ini berasal dari daerah Jawa Tawa
timur bagian barat – laut dan kabupaten Ponorogo dianggap sebagai kota asal
kesenian Reog yang sebenarnya. Reog adalah salah satu budaya daerah di
Indonesia yang masih sangat kental akan bau mistik dan ilmu – ilmu kebatinan
nya.
Pada
zaman modern sekarang ini Reog biasanya dimainkan oleh ± 7 orang pria bertubuh
gagah dengan memakai topeng berwarna merah dengan jambang dan kumis yang
panjang dalam kesenian Reog mereka disebut Warok, lalu ada ± 6 pria yang
berpenampilan seperti perempuan dan masing – masing menunggangi seekor kuda
tetapi karena perubahan zaman akhirnya beberapa paguyuban seni tari dan teater
Reog mengganti penari mereka menjadi seorang wanita asli dalam kesenian Reog
mereka sering disebut dengan Jathilan, sepasang pemgawal raja yang disebut
bujang anom, dan ada seorang raja yang berpenampilan layaknya sebuah pemimpin
lalu ada seekor singa yang bernama singo barong yang ditunggangi seekor merak
yang disebut Singo Barong dan disini keunikan dari Reog yaitu Singo Barong yang
memiliki berat 50 – 60 kg hanya di bawakan dan ditarikan menggunakan gigi dan
hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah terlatih.
Sejarah Reog Ponorogo
Pada
dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang
asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah
cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra
Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu
murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan
prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan
berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia
mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu
kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari
kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil
untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan
melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra
Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun
perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam
pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai
“Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya
ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan
pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi
kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi
perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut
merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat
topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan
giginya .
Populernya
Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan
menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan
perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid
Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian
Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi
pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur
baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu
Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi
resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang
berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia
dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri
dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan
Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam
tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya
merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan
mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat
mementaskan tariannya.
B.
Tari
Reog harus dilestarikan.
Kontroversi
Tarian
Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan. Deskripsi
akan tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian
dan Warisan Malaysia. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, topeng
berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak, yang merupakan asli
buatan pengrajin Ponorogo . Permasalahan lainnya yang timbul adalah ketika
ditarikan, pada reog ini ditempelkan tulisan “Malaysia” dan diaku menjadi
warisan Melayu dari Batu Pahat Johor dan Selangor Malaysia – dan hal ini sedang
diteliti lebih lanjut oleh pemerintah Indonesia.
Hal
ini memicu protes dari berbagai pihak di Indonesia, termasuk seniman Reog asal
Ponorogo yang berkata bahwa hak cipta kesenian Reog dicatatkan dengan nomor
026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum
dan HAM Republik Indonesia. Ribuan Seniman Reog pun menggelar demo di depan
Kedutaan Malaysia. Berlawanan dengan foto yang dicantumkan di situs kebudayaan,
dimana dadak merak dari versi Reog Ponorogo ditarikan dengan tulisan “Malaysia”
, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain pada
akhir November 2007 kemudian menyatakan bahwa “Pemerintah Malaysia tidak pernah
mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut
“barongan” di Malaysia dapat dijumpai di Johor dan Selangor karena dibawa oleh
rakyat Jawa yang merantau ke negeri jiran tersebut.
C.
Pementasan
Tari Reog.
Versi
Cerita Majapahit
Akibat
dari Kekacauan di Pusat Pemerintahan Majapahit dan ketidakpuasan Para Punggawa
Kerajaan, salah satu Punggawa menyingkir dari Pusat Kerajaan. Hal ini
dikarenakan Raja Brawijaya lebih memperhatikan istri China-nya(Putri Cempa) dan
mengabaikan pendapat dari Penasehat atau Punggawa Kerajaan. Punggawa ini
menyingkir ke wilayah pinggir dari Kerajaan Wengker (Ponorogo). Wengker adalah
Kerajaan Bawahan Majapahit dan tidak Logis jika Punggawa ini menyingkir ke
Pusat Pemerintahan Wengker (Ponorogo sekarang). Dari bentuk Candi Brongkah yang
ditemukan di Brongkah sebelah barat kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek,
menurut penulis Candi Brongkah adalah Batas Wilayah Kerajaan Wengker dan
Kediri. Jika pendapat penulis ini benar, artinya Wilayah Pinggir dari Kerajaan
Wengker meliputi 12 Kecamatan di Wilayah Kabupaten Trenggalek karena dari situs
yang ditemukan di Ponorogo, Pusat Kerajan Wengker ada di Wilayah Kabupaten
Ponorogo sekarang.
Dan
wilayah yang sejak dahulu menjadi tempat pelarian Para Punggawa Kerajaan, Raja,
Perampok dan tempat Pertapaan adalah Wilayah Kecamatan Kampak Trenggalek.
Kenapa Kampak, karena wilayah ini terlindung oleh gugusan bukit-bukit kecil
yang mengelilinginya sehingga aman untuk tempat perlindungan. Punggawa ini
tidak puas dengan Raja dan ingin memberontak. Namun apa daya, kekuatan prajurit
Majapahit jauh melebihi kekuatan pengikut Punggawa ini. Akhirnya muncul ide
menciptakan kesenian untuk mengkritisi Raja Brawijaya. Sesuai Karakter Orang
Jawa, mengkritik tidak mau secara langsung pada sasaran karena jika salah
perhitungan akan mati konyol maka digambarkan dengan lambang atau gambaran.
Muncullah penggambaran Kepala Singa/Macan dan diatasnya Burung Merak adalah
Raja Brawijaya yang ditunggangi atau dikendalikan istri China-nya Putri Cempa.
Para laki-laki yang berhias seperti perempuan dengan kuda lumping adalah
penggambaran Prajurit Majapahit yang telah Loyo dan jatuh mentalnya seperti
Prajurit Perempuan menunggang kuda dan menari-nari mengikuti titah Raja yang
tak lagi berwibawa. Bujang Ganong adalah penggambaran dari Pujangga sendiri
yang selalu menggoda Raja atau Barongan Merak dan menari-nari dengan lincahnya.
Dari sinilah kesenian Reog Ponorogo muncul dan menyebar ke seluruh Kerajaan
Wengker menjadi kesenian rakyat dan terus berkembang sampai sekarang.
Sedang
budaya Warog sendiri menurut penulis adalah Pendeta-pendeta Suci atau
orang-orang Sufi dalam Islam yang mengawal Si Punggawa. Para Pendeta atau Warog
ini tidak menikah dan jika menginginkan perempuan, maka dia mencari laki-laki
muda yang didandani wanita untuk dijadikan kesenangan/Gemblak agar terhindar dari
perbuatan zina. Para Gemblak ini dipelihara layaknya istri dan dimanja sampai
Si Warog sudah tak membutuhkan lagi.
Tokoh-Tokoh
Dalam Seni Reog
a.
Jathilan (Depan)
Jathil
adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog.Jathilan
merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang
berlatih di atas kuda.Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari
yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian
dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget sang
penari.
Jathilan
ini pada mulanya ditarikan oleh laki-laki yang halus, berparas ganteng atau
mirip dengan wanita yang cantik.
Gerak
tarinya pun lebih cenderung feminin. Sejak tahun 1980-an ketika tim kesenian
Reog Ponorogo hendak dikirim ke Jakarta untuk pembukaan PRJ (Pekan Raya
Jakarta), penari jathilan diganti oleh para penari putri dengan alasan lebih
feminin. Ciri-ciri kesan gerak tari Jathilan pada kesenian Reog Ponorogo lebih
cenderung pada halus, lincah, genit. Hal ini didukung oleh pola ritmis gerak
tari yang silih berganti antara irama mlaku (lugu) dan irama ngracik.
b. Warok
Warok"
yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci,
memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih
wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya, seseorang menjadi warok karena
mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang
baik.Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa
(Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada
pengendapan batin).\
Warok
merupakan karakter/ciri khas dan jiwa masyarakat Ponorogo yang telah mendarah
daging sejak dahulu yang diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi penerus.
Warok merupakan bagian peraga dari kesenian Reog yang tidak terpisahkan dengan
peraga yang lain dalam unit kesenian Reog Ponorogo. Warok adalah seorang yang
betul-betul menguasai ilmu baik lahir maupun batin.
1) Syarat
menjadi Warok
Warok harus menjalankan laku.“Syaratnya,
tubuh harus bersih karena akan diisi.Warok harus bisa mengekang segala hawa
nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan
perempuan.Persyaratan lainnya, seorang calon warok harus menyediakan seekor ayam
jago, kain mori 2,5 meter, tikar pandan, dan selamatan bersama. Setelah itu,
calon warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan.
Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang
warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali
panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. Warok sejati pada masa
sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa.Beberapa kelompok warok di
daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih
dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para
pejabat pemerintah selalu meminta restunya.
2) Gemblakan
Selain segala persyaratan yang harus
dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut dengan Gemblakan.
Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia
12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan,
yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak
adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog.Bagi seorang
warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat.
Konon sesama warok pernah beradu
kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang
terjadi pinjam meminjam gemblak.Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang
gemblak tidak murah.Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus
membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat
tinggal.Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok
memberikannya seekor sapi.Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam,
kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual
dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari
perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.
Kewajiban setiap warok untuk memelihara
gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya.Selain itu ada
kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun
dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok.Saling
mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan
khusus antara gemblak dan waroknya.
Praktik gemblakan di kalangan warok,
diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar
hawa nafsu kepada perempuan.
Saat ini memang sudah terjadi pergeseran
dalam hubungannya dengan gemblakan.Di masa sekarang gemblak sulit
ditemui.Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur.
Gemblak yang dahulu biasa berperan
sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja
putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.
c. Barongan (Dadak merak)
Barongan
(Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo.
Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka
kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka
terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk
menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian
manik - manik (tasbih).Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam
dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog.
[4] Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30
meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.
d. Klono Sewandono
Klono
Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki
pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut
Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu
membawa pusaka tersebut. Pusaka tersebut digunakan untuk melindungi dirinya.
Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa,
dalam suatu kisah Prabu Klono Sewandono berhasil menciptakan kesenian indah
hasil dari daya ciptanya untuk menuruti permintaan Putri (kekasihnya).
Karena
sang Raja dalam keadaan mabuk asmara maka gerakan tarinyapun kadang
menggambarkan seorang yang sedang kasmaran.
e. Bujang Ganong (Ganongan)
Bujang
Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang
enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga
disetiap penampilannya senantiasa di tunggu - tunggu oleh penonton khususnya
anak - anak.Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan,
berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.
D.
Pementasan
Reog Ponorogo
Reog
modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan,
khitanan dan hari-hari besar Nasional.Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa
rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan.Tarian pertama biasanya dibawakan oleh
6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna
merah.Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.Berikutnya
adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda.Pada reog
tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang
berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan
dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika
ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah
tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung
kondisi dimana seni reog ditampilkan.Jika berhubungan dengan pernikahan maka
yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan,
biasanya cerita pendekar,
Adegan
dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi.Disini
selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan
kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas
dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih
dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada
penontonnya.
Adegan
terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala
singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.Berat topeng ini bisa
mencapai 50-60 kg.Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi.Kemampuan
untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga
dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
1.
Alur Pertunjukan
Tari
Reog modern sering dipentaskan dalam acara pernikahan, khitanan dan hari-hari
besar Nasional.Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3
tarian pembukaan.Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani
dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah.Para penari ini
menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya
adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda.Pada reog
tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang
berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan
dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika
ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah
tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung
kondisi dimana seni reog ditampilkan.Jika berhubungan dengan pernikahan maka
yang ditampilkan adalah adegan percintaan.Untuk hajatan khitanan atau sunatan,
biasanya cerita pendekar.Adegan dalam seni reog tidak ada skenario karena
selalu terjadi interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan)
dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas
dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih
dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada
penontonnya.
Adegan
terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala
singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.Berat topeng ini bisa
mencapai 50-60 kg.Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi.Kemampuan
untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga
dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
2. Musik Pengirig Reog Ponorogo
Musik
pengiring ini di bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok penyanyi yang terdiri
dari dua penyanyi yang menyanyi lagu daerah seperti Jathilan Jonorogo apabila
diadakan di kabupaten Ponorogo dan apabila di Surabaya para aguyuban reog di
Surabaya sering menggantinya dengan Semanggi Surabaya atau Jembatan Merah yang
merupakan lagu khas Surabaya dengan bahasa jawa lalu kelompok instrument
gamelan memiliki anggota sekitar 9 orang yang terdiri dari:
·
orang penabuh gendang
·
1 orang penabuh
ketipung atu gendang terusan.
·
orang peniup slompre
·
2 orang penabuh kenong
·
1 orang penabuh gong
·
2 orang pemain angklung
Salah
satu ciri khas dari tabuhan reog adalah bentuk perpaduan irama yang berlainan
antara kethuk kenong dan gong yang berirama selendro dengan bunyi slompret yang
berirama pelog sehingga menghasilkan irama yang terkesan magis.
3. Alat Musik Yang Mengiringi Reog Ponorogo
a)
Alat musik dalam
gamelan reog berjumlah 9 buah.
b)
orang penabuh gendang
dimainkan dengan dipukul dan terbuat dari kayu dan kulit sapi.
c)
1 orang penabuh
ketipung atu gendang terusan. dimainkan dengan dipukul dan terbuat dari kayu,
alumunium dan kulit sapi.
d) orang
peniup slompret dimainkan dengan ditiup dan terbuat dari bambu 2 orang penabuh
kenong dimainkan dengan dipukul dengan menggunakan alat dan terbuat dari logam
dan kayu.
e)
1 orang penabuh gong
dimainkan dengan dipukul dengan alat dan terbuat dari logam dan kayu.
f)
orang pemain angklung
dimainkan dengan digoyang dan terbuat dari bamboo
4.
Lagu Daerah Yang
Mengiringi Reog Ponorogo
Judul
nyanyian yang digunakan tergantung tempat di tampilkan seperti Semanggi
Suroboyo atau Jathilan Ponorogo:
a)
Nyanyian yang
dinyanyikan menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa jawa.
b)
Nyanyian di reog ini dinyanyikan selama ± 20
menit
Reog
di Masa Sekarang
Seniman
Reog Ponorogo lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan
tari reog ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkan estetika seni
panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah reog ponorogo dengan
format festival seperti sekarang. Ada alur cerita, urut-urutan siapa yang
tampil lebih dulu, yaitu Warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Klana
Sewandana, barulah Barongan atau Dadak Merak di bagian akhir.
Saat
salah satu unsur tersebut beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski
tidak menonjol. Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai
berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggotanya terdiri atas grup-grup reog
dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog
Nasional. Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan
ragam geraknya.
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan.
Tari Reog merupakan kebudayaan asli
Indonesia yang harus kita lestarikan bersama dan mempunyai nilai luhur yang
harus kita implikasikan sebagai identitas bangsa yang menghargai warisan nenek
moyang dan merupakan alat komunikasi masyarakat agar tercapai lingkungan madani
menghormati budaya bangsa.
B.
Saran.
Semoga dengan semakin banyaknya karya
ilmiah atau artikel yang membahas Tari Reog maka kebudayaan tersebut semakin
dikenal oleh masyarakat lokal maupun mancanegara sebagai kebudayaan asli
Indonesia sekaligus sebagai alat promosi dan belajar kebudayaan yang harus kita
latih mulai dari sekarang baik di kalangan anak-anak , remaja, maupun dewasa
agar lebih mencintai kebudayaan asli Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Reog
di Jawa Timur, Departmen Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, 1978-9
Herman
Joseph Wibowo. Drama Tradisional Reog:
Suatu Kajian Sistem Pengetahuan Dan Religi,' in Laporan Penelitian JARAHNITRA,
Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 1995-6, pp. 1-59, dan
kaset video no 24, 14/7/1991, arsip video milik Josko Petkovic.
Blog
Parvita: Reog Ponorogo pindah ke Malaysia?
a
b c d e Tokoh-tokoh Dalam Tari Reyog
Ponorogo, kaskus.us, 26 Januari 2011. Diakses pada 3 Agustus 2011.
Keunikan Tari Jathilan yang
Semakin Pudar,
16 Februari 2011. Diakses pada 3 Agustus 2011.
Reog Ponorogo Jawa Timur, 13 April 2011. Diakses
pada 3 Agustus 2011.
Definisi Tarian Barongan
Media
Indonesia: Soal Reog Bupati Ponorogo akan
'Lawan' Malaysia.
a
b Detik.com: Mirip Tari Reog Pemerintah
Indonesia akan teliti Tari Barongan Malaysia.